HITAM DI DAHI = BEKAS SUJUD?
by: Ihsan JJ
Sering kita
melihat seseorang, teman, ustadz, dan guru-guru kita memiliki tanda
hitam di dahinya, Stigma mayoritas masyarakat ketika melihat hal
tersebut adalah, “Orang itu pasti shaleh, karena di dahinya ada
bekas sujud berwarna hitam”. Tak ayal lagi, orang-orang dengan
tanda hitam di dahinya pasti dianggap shaleh baik oleh
teman-temannya, maupun masyarakat sekitar. Apakah benar tanda hitam
di dahi, adalah tanda yang diberikan Allah swt, bagi hambanya yang
rajin bersujud?
“Muhammad itu
adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah
keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama
mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan
keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari
atsaru-s-sujud (bekas sujud).” (QS. al Fath:29). Itulah bunyi ayat
Al-Qur’an tentang bekas sujud. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa
pada orang-orang yang ruku’, dan bersujud mencari karunia Allah
swt. Akan tampak tanda-tanda di wajah mereka berupa bekas sujud. Ayat
ini sering diartikan oleh masyarakat umum sebagai tanda hitam di dahi
seseorang, yang muncul karena terlalu lama atau terlalu sering
bersujud.
Jika melihat pada
tafsir yang mu’tabaroh(terkenal) tidak ada satupun yang mengaitkan
atsaru-s-sujud dengan tanda hitam di dahi. Mari kita simak pendapat
para mufassir berikut ini: Al- Qurthubi dalam tafsirnya menafsirkan
kata atsaru-s-sujud sebagai khusyu’, dan tawadlu. Ath-Thobari
mengatakan bahwa maksud atsaru-s-sujud adalah cahaya yang tampak pada
wajah orang-orang beriman di akhirat kelak, sebagai bekas shalat, dan
wudhunya selama di dunia. Beliau juga menolak penafsiran secara
harfiah dengan mengutip perkataan Ibnu Abbas yang berkata, “Hal itu
bukanlah seperti yang kalian kira, karena maksudnya (atsaru-s-sujud)
adalah tanda-tanda keislaman(ketundukkan, dan kepasrahan), dan
kekhusyu’an.
ULAMA YANG
MEMBENCINYA
Salah satu ulama
yang tidak menyukai tanda hitam di dahi adalah Abullah bin Umar r.a.
Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umarh .
Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya
kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab
orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas berwarna hitam di
antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada
di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan
Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas
tersebut pada dahiku?” (HR. Baihaqi). Bahkan Ahmad ash Showi
mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana
perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang
ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (ahli bid’ah).”
(Hasyiah ash Shawi).
PENUTUP
Adalah suatu
kesalahan menilai keshalehan seseorang dari penampilannya. Dan lebih
salah lagi berpenampilan shaleh, hanya untuk riya’ alias pamer.
Dalam Riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa ketika Allah memberikan
pahala di akhirat Allah berkata pada pada para pelaku riya’,
“pergilah kamu terhadap orang-orang yang melihatmu di dunia, lihat
apakah kamu medapat balsan darinya.” Menurut Imam Syafi’I obat
riya’ adalah mengerjakannya terus sampai kita lupa bahwa kita
sedang riya’.
Lebih baik kita
tidak memilik tanda hitam tersebut untuk menghindari prasangka buruk
orang lain. Cukuplah berpenampilan sederhana, dan tidak
berlebih-lebihan. Biarlah Allah yang akan menampakkan keshalihan kita
pada orang lain. Usiikum waiyyaya
No comments:
Post a Comment