30 September, 2016

Hitam Di Dahi = Bekas Sujud?


HITAM DI DAHI = BEKAS SUJUD?
by: Ihsan JJ

Sering kita melihat seseorang, teman, ustadz, dan guru-guru kita memiliki tanda hitam di dahinya, Stigma mayoritas masyarakat ketika melihat hal tersebut adalah, “Orang itu pasti shaleh, karena di dahinya ada bekas sujud berwarna hitam”. Tak ayal lagi, orang-orang dengan tanda hitam di dahinya pasti dianggap shaleh baik oleh teman-temannya, maupun masyarakat sekitar. Apakah benar tanda hitam di dahi, adalah tanda yang diberikan Allah swt, bagi hambanya yang rajin bersujud?
“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan Dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari atsaru-s-sujud (bekas sujud).” (QS. al Fath:29). Itulah bunyi ayat Al-Qur’an tentang bekas sujud. Disebutkan dalam ayat tersebut bahwa pada orang-orang yang ruku’, dan bersujud mencari karunia Allah swt. Akan tampak tanda-tanda di wajah mereka berupa bekas sujud. Ayat ini sering diartikan oleh masyarakat umum sebagai tanda hitam di dahi seseorang, yang muncul karena terlalu lama atau terlalu sering bersujud.
Jika melihat pada tafsir yang mu’tabaroh(terkenal) tidak ada satupun yang mengaitkan atsaru-s-sujud dengan tanda hitam di dahi. Mari kita simak pendapat para mufassir berikut ini: Al- Qurthubi dalam tafsirnya menafsirkan kata atsaru-s-sujud sebagai khusyu’, dan tawadlu. Ath-Thobari mengatakan bahwa maksud atsaru-s-sujud adalah cahaya yang tampak pada wajah orang-orang beriman di akhirat kelak, sebagai bekas shalat, dan wudhunya selama di dunia. Beliau juga menolak penafsiran secara harfiah dengan mengutip perkataan Ibnu Abbas yang berkata, “Hal itu bukanlah seperti yang kalian kira, karena maksudnya (atsaru-s-sujud) adalah tanda-tanda keislaman(ketundukkan, dan kepasrahan), dan kekhusyu’an.
ULAMA YANG MEMBENCINYA
Salah satu ulama yang tidak menyukai tanda hitam di dahi adalah Abullah bin Umar r.a. Dari Salim Abu Nadhr, ada seorang yang datang menemui Ibnu Umarh . Setelah orang tersebut mengucapkan salam, Ibnu Umar bertanya kepadanya, “Siapakah anda?”. “Aku adalah anak asuhmu”, jawab orang tersebut.
Ibnu Umar melihat ada bekas berwarna hitam di antara kedua matanya. Beliau berkata kepadanya, “Bekas apa yang ada di antara kedua matamu? Sungguh aku telah lama bershahabat dengan Rasulullah, Abu Bakar, Umar dan Utsman. Apakah kau lihat ada bekas tersebut pada dahiku?” (HR. Baihaqi). Bahkan Ahmad ash Showi mengatakan, “Bukanlah yang dimaksudkan oleh ayat adalah sebagaimana perbuatan orang-orang bodoh dan tukang riya’ yaitu tanda hitam yang ada di dahi karena hal itu adalah ciri khas khawarij (ahli bid’ah).” (Hasyiah ash Shawi).


PENUTUP
Adalah suatu kesalahan menilai keshalehan seseorang dari penampilannya. Dan lebih salah lagi berpenampilan shaleh, hanya untuk riya’ alias pamer. Dalam Riwayat Imam Ahmad disebutkan bahwa ketika Allah memberikan pahala di akhirat Allah berkata pada pada para pelaku riya’, “pergilah kamu terhadap orang-orang yang melihatmu di dunia, lihat apakah kamu medapat balsan darinya.” Menurut Imam Syafi’I obat riya’ adalah mengerjakannya terus sampai kita lupa bahwa kita sedang riya’.
Jangan pula berpenampilan, dan berpura-pura shaleh, namun dibalik itu semua dia terus melakukan maksiat alias STMJ(shalat terus maksiat jalan). Syeikh Salih Fauzan dalam buku Ilmu Tauhidnya mengatakan bahwa orang munafiq lebih bahaya dari orang kafir, orang munafiq bagaikan musuh dalam selimut.
Lebih baik kita tidak memilik tanda hitam tersebut untuk menghindari prasangka buruk orang lain. Cukuplah berpenampilan sederhana, dan tidak berlebih-lebihan. Biarlah Allah yang akan menampakkan keshalihan kita pada orang lain. Usiikum waiyyaya


No comments:

Post a Comment